Jumat, 30 September 2011

My Colleger Friends




Bloggers, saya mw berbagi gambar alias foto nih. Foto ini adalah foto teman2 sekelas saya di kampus... :)
teman2 sekelas saya yang bagi saya hubungan persaudaraannya begitu erat, bahkan terasa seperti keluarga.
Saya dan teman2 menyebutnya "SB Family" :) karena kami bertemu pertama kalinya di kelas 1 SB (sipil-B) di kampus saya dan kami sekelas hingga kelas 2 (semester 2).

SB Family
Entah, rasanya kami benar2 merasa begitu dekat seperti kakak dan adik. Bila yang satu ada masalah, kami pecahkan dan mencari jalan keluar ber-sama2. Benar2 saya ingat ketika dosen memberikan tugas, selaaaluu bersama. Walaupun ada yang sudah selesai, pokoknya ngumpulnya barengan. Sesuai dengan namanya : 2SB = Susah Senang Bersama. Kami saling membantu satu sama lain, ya kecuali kalau ujian. :)

Kelas SB meninggalkan kesan yang benar2 berharga bagi saya. Terutama bagi empat orang teman dekat saya... Dekat, karena sebangku, dan bangkunya terletak berdekatan, sehingga pertemanan kami menjadi cukup erat.



Ada satu teman saya yang benar2 polos dan bener2 baik hatinya. Namanya "Novitasari" :) Saya biasa memanggilnya "Piiie"... Banyak yang bilang saya dan Pie mirip, seperti kakak dan adik. Termasuk adik saya sendiri yang bilang gitu. Dan ketika itu, saya dan Pie memang selalu jalan keluar kelas seperti ke kantin atau ke perpus ber-sama2. Pie orangnya benar2 penuh perhatian kepada sesama. Ramah banget! Dia apa adanya, gak neko-neko, gak pamrih menolong, ikhlas banget deh pokoknya. Dia bisa dipercaya untuk hal apapun. Jujur, saya kagum dengan ketulusan dan kesederhanaan Pie :)


Trus, ada lagi teman yang cukup dekat, namanya "Rizky Aptriadi Hidayat"... Biasa saya memanggilnya "ikik". Saya sudah berteman cukup lama dengan dia, karena ketika kelas 1 SMA, saya pernah sekelas dengan dia. Nah, kalau yang ini, dia berprofesi sebagai supir SB. hehe :D agak gimana gitu yah. Dia juga baik banget dan polos! Kalau pergi ke kampus, bawa mobil Kuda silver... Saking baiknya, dia jarang nolak kalau dimintai tolong nganter2 temen2 SB. Misalnya, temen2 kami yang cewe' mo belanja bareng, dia bersedia kok nganter. hahhaa. Ikik humoris! Dia juga seneng ngelucu. Kalau saya, Pie, Ikik berkumpul... ladas... bakal kelewatan banget, sampe renggang otot2 capek, dan bibir makin lebar karena ketawa.

Ohya, Ada satu lagi teman sebangku Ikik, namanya "Muhammad Idham Fahmi". Panggilan yang saya berikan ke dia adalah "Koko" :D karena dia imut2 baby face kayak orang chinese gituuuh. Koko ini juga sama kayak Ikik. Suka ngelucu. Baik juga... tapi kalau yang ini nggak polos. hehehe. Kalau dia polos, gak akan jadi ketua kelas 1 SB dia. Dia juga pernah se-SMA dengan saya. Tapi saya baru kenal ya pas kuliah. haha *dasar* Nah, kalau kami bertiga sudah digabung dengan si Koko, wah... lebih lagi ladas-nya. Tapi, saya lebih sering ter-diam. karena kalau udah gabung, mereka banyak ngomongin bola T_T dan saya agak kurang ilmu tentang bola. wakaka

Pie, Ikik, dan Koko bagi saya adalah partner sejati. Mengapa? Kami sudah saling tau jeleknya masing2. Udah gak canggung2 lagi dalam bertindak. Yang paling berkesan, mereka-lah yang membuat saya menjadi semakin semangat dalam membagi ilmu. Hal yang paling tidak saya lupakan dari mereka adalah ketika belajar bersama2... it's unforgettable memory, friends :)

Saya bersyukuurr banget punya teman2 seperti mereka. :)
hiks, sumpah, ketika menulis artikel ini, saya benar2 menahan airmata saya agar tidak terjatuh.
saya rindu kebersamaan dengan mereka seperti dulu.

"saya, koko, ikik, dan pie"

Sekarang, kami berempat sudah tidak berada dalam satu kelas lagi. Saya dijuruskan ke konsentrasi Bangunan Gedung, Koko ke bangunan Air, sedangkan Pie dan Ikik ke Transportasi.

Kami berempat pernah buat janji, kalau suatu ketika kita udah sukses, kita bakal ketemuan di tempat yang paling mewah di dunia...
mudah2an dikabulkan ya. Amiin.

I Love you All friends :)

Selasa, 06 September 2011

Bu Asih

Hi bloggers, saya mau sharing tentang cerpen yang pernah saya buat di zaman saya ketika SMP. hehehe. entah gimana, saya buka-buka folder saya ketika smp dan saya menemukan cerpen saya ini. setelah saya baca lagi, hm... kok ak bisa ya buat yang beginian? hahaha *otak masih bersih sih ya*

BU ASIH
Ibu Asih adalah seorang wanita yang sangat tegar. Rambutnya yang mulai memutih tak mematahkan semangatnya untuk tetap hidup. Walaupun ia tinggal sendiri di rumah kecil di Kampung Selayur, ia tetap sabar dan tak pernah mengeluh. Semua tetangganya menghormati dirinya sebagai sesepuh di kampung itu. Mereka juga memperhatikan dan mempedulikan dirinya. Namun tidak untuk anak-anaknya.

Sebenarnya ia memiliki 3 orang anak. Ia sangat menyayangi anak-anaknya tersebut. Danu, Aris, dan Santi, itulah anak-anak Bu Asih. Mengapa ia tinggal sendiri? Ke mana anak-anaknya? Waktulah yang mengubah suatu peristiwa 5 tahun yang lalu menjadi semakin cepat. Peristiwa yang membuat ia menjadi terpisah dengan suaminya, dan ketiga anaknya, dan hidup sendiri.

Danu berhenti sekolah di kelas 2 SMP ketika ayahnya meninggal. Aris juga turut berhenti saat ia masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sedangkan Santi belum lahir saat itu. Ia masih berumur 6 bulan dalam kandungan. Suami Bu Asih, Pak Diman, meninggal karena ditabrak mobil truk yang melintas di depannya saat ia akan berangkat kerja sebagai guru sekolah dasar.

Ibu Asih sendiri, sebelum Pak Diman meninggal, bekerja sebagai pemetik daun teh. Hitung-hitung untuk turut mencukupi kebutuhan keluarga daripada menganggur saja di rumah. Danu dan Aris juga sudah bisa diandalkan untuk memasak, mencuci baju, dan keperluan lainnya. Kehidupan keluarga Bu Asih sangat bahagia saat itu. Apalagi ketika dikabarkan Bu Asih sedang mengandung anak ketiganya. Bu Asih dan Pak Diman sangat berharap dapat memiliki anak perempuan karena anak pertama dan kedua mereka laki-laki.

Ketika Pak Diman akan berangkat kerja, sebelum kematiannya, Bu Asih sudah merasakan adanya firasat buruk yang akan menimpa suaminya. Namun hal itu disimpan Bu Asih dalam-dalam untuk menghilangkan kecemasannya kepada suaminya. Pak Diman pun berangkat ke kerja. Dan benar saja, di jalan, Pak Diman kecelakaan. Tentu hati Bu Asih sangat terpukul dengan berita itu. Bu Asih benar-benar tak habis pikir dengan firasat buruknya tadi.

Kini Bu Asihlah yang menjadi kepala keluarganya. Menjelang saat-saat kelahiran anak ketiganya, ia terus saja bekerja untuk mendapatkan nafkah bagi keluarganya. Bu Asih memikirkan, apabila ia hanya mengandalkan asuransi dari suaminya. Apalagi ia juga butuh biaya untuk kelahiran anaknya. Sehingga ketika di kebun teh, hampir saja ia mengalami keguguran, apabila tidak ada seorangpun yang mengetahui dirinya sudah tergeletak di tanah. Minah, karyawati sebayanya, meminta pertolongan. Bu Asih dan Santi pun bisa diselamatkan.

Dua puluh tahun pun berlalu. Santi sudah remaja. Danu dan Ari sudah dewasa. Bu Asih pun semakin tua. Ia masih bekerja sebagai pemetik teh. Santi membantu ibunya dengan berjualan kue apem sejak berumur 10 tahun. Danu dan Aris tidak ada yang berusaha untuk bekerja. Semakin lama, kelakuan mereka semakin kasar. Danu sering menuntut meminta uang dari ibunya. Aris juga sering mencuri uang hasil jualan adiknya. Mereka menggunakannya untuk berfoya-foya dan berjudi. Bahkan Bu Asih sering menerima perlakuan kasar dari kedua anak laki-lakinya itu, apalagi Santi.

Mental Santi semakin terganggu, dan ia menjadi gila. Bu Asih semakin sengsara. Tiap hari ia bekerja keras bahkan melembur untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak dari biasanya. Hingga suatu ketika, Bu Asih jatuh sakit. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya semakin pucat. Matanya sayu dan tak bertenaga lagi. Sesekali ia sesenggukan menangis, mengingat semua perilaku anak-anaknya. Ia menyesali perbuatan anak-anaknya itu. Ia selalu berdoa pasrah kepada Tuhan Yang Kuasa. Bu Asih sendiri masih dapat bertahan karena banyak tetangganya yang kasihan, sering mengantarkan serantang makanan sehingga Bu Asih tidak repot.

Karena gangguan kejiwaannya tadi, Santi pun pergi entah ke mana. Bagaimana dengan Danu dan Aris? Mereka masih tinggal dengan Bu Asih. Perlakuannya tetap saja buruk. Hingga suatu waktu, warga mendatangi rumah Bu Asih. Mereka menuntut untuk mengusir Danu dan Aris untuk pergi dari kampung tersebut.

Perlakuan mereka yang suka judi dan berfoya-foyalah membuat warga kampung resah. Danu dan Aris ketakutan. Mereka meminta pertolongan dengan Bu Asih. Bu Asih sudah berusaha membela, namun tidak bisa. Bu Asih tak dapat membela mereka karena ia sendiri sakit-sakitan dan tak kuat lagi apabila harus berbicara panjang lebar dan menghadapi amuk warga. Warga pun juga tak ada yang peduli, yang mereka inginkan adalah Danu dan Aris harus pergi. Dan kemudian Danu dan Aris pun pergi entah ke mana.

Lengkap sudah penderitaan Bu Asih. Kini ia tidak tahu lagi bagaimana hidupnya. Fisik yang semakin lemah membuatnya tidak dapat bekerja lagi. Lama-kelamaan, warga juga menyesal atas perlakuan mereka dan merasa iba terhadap Bu Asih. Mereka berusaha untuk mengurusi dirinya. Warga juga memberikan kepercayaan kepada Bu Asih untuk menjaga masjid yang letaknya berada sekitar 2 rumah dari rumahnya.

Bu Asih terduduk kaku di kursi teras rumahnya. Ia menatap kosong ke depan. Mengingat masa lalu dirinya yang tidak seharusnya seperti itu. Dalam lubuk hatinya, ia masih sangat ingin berada di tengah-tengah keluarganya. Mendengar tawa anak-anaknya dan menjabat tangan suami sebelum berangkat bekerja. Mukanya yang semakin keriput pun dibasahi oleh beberapa tetes air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

Senja pun tiba. Ia berjalan tertatih menuju ke masjid dengan disangga oleh sebuah tongkat kayu yang terlihat sudah agak rapuh di tangan sebelah kirinya. Di tangan kanannya terdapat serangkaian kunci, kunci untuk membuka pintu masjid. Dan azan pun tiba. Dalam doanya, ia berharap di manapun putra-putrinya berada, selalu dalam perlindungan Tuhan. Bu Asih juga berharap agar kelak di dunia keduanya, ia dapat berkumpul bahagia kembali dengan suami dan anak-anaknya.

Rabu, 17 Agustus 2011

Cermin Seekor Burung

Saya ada sekelumit cerita yang mungkin bisa para bloggers jadikan bahan renungan untuk diri sendiri... cerita ini saya dapatkan dari orang yang saya segani sebagai guru saya :)


Ketika musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara, mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.


Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.


Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hijau, penampilan acap menjadi ukuran, yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya, dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah kita…

iya atau tidak? tergantung dari suara hati bloggers menjawab apa. :)