BU ASIHIbu Asih adalah seorang wanita yang sangat tegar. Rambutnya yang mulai memutih tak mematahkan semangatnya untuk tetap hidup. Walaupun ia tinggal sendiri di rumah kecil di Kampung Selayur, ia tetap sabar dan tak pernah mengeluh. Semua tetangganya menghormati dirinya sebagai sesepuh di kampung itu. Mereka juga memperhatikan dan mempedulikan dirinya. Namun tidak untuk anak-anaknya.
Sebenarnya ia memiliki 3 orang anak. Ia sangat menyayangi anak-anaknya tersebut. Danu, Aris, dan Santi, itulah anak-anak Bu Asih. Mengapa ia tinggal sendiri? Ke mana anak-anaknya? Waktulah yang mengubah suatu peristiwa 5 tahun yang lalu menjadi semakin cepat. Peristiwa yang membuat ia menjadi terpisah dengan suaminya, dan ketiga anaknya, dan hidup sendiri.
Danu berhenti sekolah di kelas 2 SMP ketika ayahnya meninggal. Aris juga turut berhenti saat ia masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sedangkan Santi belum lahir saat itu. Ia masih berumur 6 bulan dalam kandungan. Suami Bu Asih, Pak Diman, meninggal karena ditabrak mobil truk yang melintas di depannya saat ia akan berangkat kerja sebagai guru sekolah dasar.
Ibu Asih sendiri, sebelum Pak Diman meninggal, bekerja sebagai pemetik daun teh. Hitung-hitung untuk turut mencukupi kebutuhan keluarga daripada menganggur saja di rumah. Danu dan Aris juga sudah bisa diandalkan untuk memasak, mencuci baju, dan keperluan lainnya. Kehidupan keluarga Bu Asih sangat bahagia saat itu. Apalagi ketika dikabarkan Bu Asih sedang mengandung anak ketiganya. Bu Asih dan Pak Diman sangat berharap dapat memiliki anak perempuan karena anak pertama dan kedua mereka laki-laki.
Ketika Pak Diman akan berangkat kerja, sebelum kematiannya, Bu Asih sudah merasakan adanya firasat buruk yang akan menimpa suaminya. Namun hal itu disimpan Bu Asih dalam-dalam untuk menghilangkan kecemasannya kepada suaminya. Pak Diman pun berangkat ke kerja. Dan benar saja, di jalan, Pak Diman kecelakaan. Tentu hati Bu Asih sangat terpukul dengan berita itu. Bu Asih benar-benar tak habis pikir dengan firasat buruknya tadi.
Kini Bu Asihlah yang menjadi kepala keluarganya. Menjelang saat-saat kelahiran anak ketiganya, ia terus saja bekerja untuk mendapatkan nafkah bagi keluarganya. Bu Asih memikirkan, apabila ia hanya mengandalkan asuransi dari suaminya. Apalagi ia juga butuh biaya untuk kelahiran anaknya. Sehingga ketika di kebun teh, hampir saja ia mengalami keguguran, apabila tidak ada seorangpun yang mengetahui dirinya sudah tergeletak di tanah. Minah, karyawati sebayanya, meminta pertolongan. Bu Asih dan Santi pun bisa diselamatkan.
Dua puluh tahun pun berlalu. Santi sudah remaja. Danu dan Ari sudah dewasa. Bu Asih pun semakin tua. Ia masih bekerja sebagai pemetik teh. Santi membantu ibunya dengan berjualan kue apem sejak berumur 10 tahun. Danu dan Aris tidak ada yang berusaha untuk bekerja. Semakin lama, kelakuan mereka semakin kasar. Danu sering menuntut meminta uang dari ibunya. Aris juga sering mencuri uang hasil jualan adiknya. Mereka menggunakannya untuk berfoya-foya dan berjudi. Bahkan Bu Asih sering menerima perlakuan kasar dari kedua anak laki-lakinya itu, apalagi Santi.
Mental Santi semakin terganggu, dan ia menjadi gila. Bu Asih semakin sengsara. Tiap hari ia bekerja keras bahkan melembur untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak dari biasanya. Hingga suatu ketika, Bu Asih jatuh sakit. Tubuhnya kurus kering. Wajahnya semakin pucat. Matanya sayu dan tak bertenaga lagi. Sesekali ia sesenggukan menangis, mengingat semua perilaku anak-anaknya. Ia menyesali perbuatan anak-anaknya itu. Ia selalu berdoa pasrah kepada Tuhan Yang Kuasa. Bu Asih sendiri masih dapat bertahan karena banyak tetangganya yang kasihan, sering mengantarkan serantang makanan sehingga Bu Asih tidak repot.
Karena gangguan kejiwaannya tadi, Santi pun pergi entah ke mana. Bagaimana dengan Danu dan Aris? Mereka masih tinggal dengan Bu Asih. Perlakuannya tetap saja buruk. Hingga suatu waktu, warga mendatangi rumah Bu Asih. Mereka menuntut untuk mengusir Danu dan Aris untuk pergi dari kampung tersebut.
Perlakuan mereka yang suka judi dan berfoya-foyalah membuat warga kampung resah. Danu dan Aris ketakutan. Mereka meminta pertolongan dengan Bu Asih. Bu Asih sudah berusaha membela, namun tidak bisa. Bu Asih tak dapat membela mereka karena ia sendiri sakit-sakitan dan tak kuat lagi apabila harus berbicara panjang lebar dan menghadapi amuk warga. Warga pun juga tak ada yang peduli, yang mereka inginkan adalah Danu dan Aris harus pergi. Dan kemudian Danu dan Aris pun pergi entah ke mana.
Lengkap sudah penderitaan Bu Asih. Kini ia tidak tahu lagi bagaimana hidupnya. Fisik yang semakin lemah membuatnya tidak dapat bekerja lagi. Lama-kelamaan, warga juga menyesal atas perlakuan mereka dan merasa iba terhadap Bu Asih. Mereka berusaha untuk mengurusi dirinya. Warga juga memberikan kepercayaan kepada Bu Asih untuk menjaga masjid yang letaknya berada sekitar 2 rumah dari rumahnya.
Senja pun tiba. Ia berjalan tertatih menuju ke masjid dengan disangga oleh sebuah tongkat kayu yang terlihat sudah agak rapuh di tangan sebelah kirinya. Di tangan kanannya terdapat serangkaian kunci, kunci untuk membuka pintu masjid. Dan azan pun tiba. Dalam doanya, ia berharap di manapun putra-putrinya berada, selalu dalam perlindungan Tuhan. Bu Asih juga berharap agar kelak di dunia keduanya, ia dapat berkumpul bahagia kembali dengan suami dan anak-anaknya.